WhatsApp Icon

Dari Rak Warung hingga Kemandirian: Perjalanan Zmart BAZNAS Kota Kediri

30/09/2026  |  Penulis: Alif Indra Rayhan Parwansha

Bagikan:URL telah tercopy
Dari Rak Warung hingga Kemandirian: Perjalanan Zmart BAZNAS Kota Kediri

Dokumentasi ZMART BAZNAS KOTA KEDIRI

Kediri Zmart adalah program pemberdayaan ekonomi untuk masyarakat dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang mengalokasikan dana zakat produktif untuk membantu pegiat usaha mikro. Dalam pelaksanaannya, program ini menghadirkan tambahan modal, penataan warung, pendampingan manajemen, dan penguatan rantai pasok. Sampai 2026, ribuan unit Zmart sudah berdiri di berbagai wilayah Indonesia, termasuk 60 gerai yang baru diresmikan di Kota Kediri.

Bagi banyak keluarga, warung kecil memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat berjualan sembako. Warung menjadi sumber nafkah sandaran ekonomi keluarga, sekaligus modal untuk membiayai pendidikan anak dan menjaga keberlangsungan hidup keluarga.

Meski begitu, mengelola warung kecil tidaklah mudah. Keterbatasan modal, ketersediaan stok yang tidak selalu lengkap, persaingan dengan toko ritel modern, serta pencatatan keuangan yang belum rapi sering kali menghambat perkembangan usaha.

Situasi tersebut mendorong lahirnya Zmart yang di inisiasi oleh Baznas. Selain menyalurkan modal, BAZNAS turut menyediakan penataan dan branding warung, perlengkapan usaha, pendampingan manajemen, serta penguatan rantai pasok. Dengan begitu, berharap agar warung memiliki daya saing yang lebih kuat di tengah dinamika pasar.

Bukan Sekadar Memberi Modal

Di balik konsep ini, terdapat pendekatan yang menarik dari Zmart yaitu Modal menjadi awal, bukan akhir dari proses pemberdayaan

Sebab, Modal hanyalah salah satu fondasi namun keberlanjutan usaha juga ditentukan oleh cara mengelolanya dengan dibarengi kemampuan mengelolanya.

Karena itu, dalam program Zmart, Dukungan tersebut dilengkapi pendampingan yang menyentuh berbagai kebutuhan praktis dalam menjalankan usaha, mulai dari pencatatan usaha, pengelolaan stok, penataan produk, promosi, hingga pengembangan usaha.

BAZNAS memberi materi yang berupa mencakup kemampuan untuk mengenali penilaian barang yang paling laris, display produk, stock opname, teknologi bisnis ritel, pelayanan pelanggan, promosi, dan pengembangan usaha sebagai bagian dari pendampingan Zmart.

Dengan pendekatan tersebut, dukungan Zmart tidak semata-mata diarahkan untuk menambah stok barang, tetapi juga mengarah pada sistem pengelolaan yang lebih baik.

Sederhananya adalah Zmart tidak hanya memperkuat warung sebagai tempat usaha, tetapi juga kapasitas pemiliknya untuk berkembang.

Ribuan Zmart Tersebar di Indonesia

Zmart Menjangkau Berbagai Wilayah Indonesia, yang menandakan Zmart terus tumbuh Menjadi Program Pemberdayaan Berskala Nasional.

Dalam keterangan BAZNAS RI pada April 2026, Zmart telah mencapai 5.551 unit di 34 provinsi hingga Maret 2026. Sebelumnya, pada Januari 2026, BAZNAS mencatat 4.805 unit Zmart di 115 kabupaten/kota dan 34 provinsi. Perbedaan angka tersebut menunjukkan program terus berkembang sepanjang 2026.

Pada Maret 2026, Saat meresmikan kolaborasi dengan PT Sumber Trijaya Lestari (Aksesmu) untuk memperkuat rantai pasok warung Zmart, BAZNAS mencatat jumlah Zmart telah mencapai 4.805 unit. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membantu pengelolaan stok dan distribusi barang bagi pelaku usaha mikro.

Artinya, perkembangan Zmart tidak hanya berbicara tentang jumlah warung. Ada upaya untuk membangun ekosistem usaha yang menghubungkan modal, pengelolaan, pendampingan, dan rantai pasok.

Dari Nasional hingga Kota Kediri

Program tersebut juga hadir di Kota Kediri. Pada Januari 2026, Di Kota Kediri, kolaborasi BAZNAS RI, BAZNAS Kota Kediri, dan Pemerintah Kota Kediri diwujudkan melalui hadirnya 60 gerai Zmart. Total bantuan yang disalurkan mencapai Rp480 juta, dengan 60 mustahik sebagai penerima manfaat.

Jika dihitung sederhana, nilai bantuan tersebut setara rata-rata Rp8 juta per penerima.

Namun angka tersebut tidak seharusnya dibaca hanya sebagai nominal bantuan.

Nilai bantuan tidak berhenti pada apa yang diterima, tetapi pada bagaimana bantuan itu diolah menjadi peluang..

Salah satu penerima manfaat Zmart di Kediri, Ibu Cipto, misalnya, mendapatkan pendampingan dalam pencatatan omzet dan pengelolaan usaha. Melalui pendampingan, usaha ritelnya perlahan dikelola dengan lebih terarah, sekaligus membantu menyusun langkah pengembangan toko ke depan.

Di sinilah konsep pemberdayaan menjadi penting.

Zakat dapat berperan lebih jauh, bukan hanya dalam meringankan beban, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk memperkuat kemampuan ekonomi penerimanya.

Ketika Warung Harus Berhadapan dengan Ritel Modern

Persaingan menjadi salah satu tantangan terbesar bagi warung tradisional.

Di satu sisi, Ritel modern hadir dengan penataan yang lebih rapi, pilihan produk yang beragam, dan layanan yang cenderung konsisten. Namun di sisi lain juga, Warung kecil memiliki keunggulan tersendiri seperti kedekatan dengan warga sekitar, relasi personal dengan pelanggan, dan lokasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat..

Zmart mencoba memperkuat keunggulan tersebut.

BAZNAS menyebut program ini mendorong penguatan kapasitas warung agar dapat bertahan dan berkembang di tengah persaingan ritel modern. Dukungan yang diberikan mencakup diversifikasi produk, renovasi dan branding, pengembangan rantai pasok, pendampingan personal maupun kelompok, serta dukungan teknologi pada distribusi barang.

Dengan demikian, upaya penguatan tersebut bukan untuk menghilangkan karakter warung tradisional dan menggantinya dengan konsep minimarket.

Alih-alih mengubahnya menjadi minimarket, pendekatan Zmart berfokus pada penataan warung agar lebih rapi, tertata, dan siap bersaing tanpa kehilangan fungsi sosialnya sebagai usaha masyarakat.

Ketika Angka Omzet Mulai Berbicara

Dampak program juga dapat dilihat dari sejumlah kisah penerima manfaat yang dipublikasikan BAZNAS.

Meski demikian, peningkatan tersebut tidak berarti seluruh warung Zmart mengalami pertumbuhan dengan besaran yang sama. Kondisi setiap usaha berbeda, dan omzet juga dipengaruhi lokasi, produk, daya beli pelanggan, serta kemampuan pengelolaan.

Namun, berbagai pengalaman tersebut memperlihatkan satu hal yang tak kalah penting yaitu pendampingan usaha dapat menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan usaha mikro

Dari Mustahik Menuju Kemandirian

Pada akhirnya, Zmart membawa pendekatan yang tidak berhenti pada pembenahan warung.

BAZNAS menyatakan bahwa tujuan akhirnya adalah mendorong penerima manfaat menuju kemandirian ekonomi, bahkan secara bertahap bertransformasi dari mustahik menjadi muzaki.

Transformasi itu tidak lahir dalam sekejap, melainkan melalui proses yang bertahap.

Menjadi mandiri membutuhkan usaha yang bertahan, pengelolaan keuangan yang disiplin, kemampuan menghadapi persaingan, serta kondisi ekonomi yang mendukung.

Karena itu, lebih dari sekadar menghitung jumlah penerima manfaat, keberhasilan Zmart juga terlihat dari perubahan yang terjadi setelah dukungan diberikan.

Bagikan:URL telah tercopy
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Kediri.

Lihat Daftar Rekening →